Empat puluh sembilan tahun hidup di Papua.

Jacobus Duivenvoorde memulai “karir” di pulau Indonesia Timur pada umur 26 tahun, dan baru kembali ke negeri kincir angin saat berusia 75 tahun. Ia menyaksikan perubahan dari pemerintah Hindia Belanda ke Indonesia.

“Tidak semua orang waktu itu berbahasa Belanda. Hanya pemerintahan, kepala dinas itu orang Belanda. Mereka biasa pakai bahasa Belanda. Kalau urus apa-apa harus dalam bahasa Belanda. Tapi komunikasi dengan orang biasa memakai bahasa Indonesia,” kata Duivenvoorde.

Warga Belanda kemudian pulang setelah perang Irian Barat pada tahun 1963. Namun ini tidak berlaku bagi pekerja gereja. Mereka bertahan melayani masyarakat.

Cinta Papua
Duivenvoorde sejak awal tertarik melakukan kegiatan misionari di Papua. Ketika muda, ia sering berkoresponden dengan rohaniwan di wilayah tersebut. Perlahan cintanya tumbuh dan membawa ia kepada keputusan untuk pergi ke sana.

“Pada tahun 1956, saya diangkat oleh uskup sebagai sekretaris keuskupan Merauke. Itu bukan terbatas pada pekerjaan di sekretariat, tetapi saya mengajar agama di sekolah dasar, khotbah di gereja, pelayanan pastoral bagi polisi,” ujar Jacobus Duivenvoorde.

Lelaki kelahiran kota Heemskerk, propinsi Holland Utara, kemudian diangkat menjadi uskup Merauke pada tahun 1972. Banyak peristiwa berlalu, tapi ia sangat mengenang bagaimana anak-anak muda Papua bersemangat menjalankan ibadah.

“Mereka dengan kesadaran sendiri pilih jalan itu, suatu kehidupan penuh pengabdian kepada Tuhan dan pengabdian kepada sesama manusia.”

Gereja, lanjut Duivenvoorde, membantu masyarakat setempat menghayati hidup sebagai orang kristen supaya menjadi nyata dalam kesehari-harian mereka. Gereja juga terlibat aktif dalam proyek pertanian, perikanan dan kegiatan sejenis.

Pensiun
Jacobus Duivenvoorde pensiun dari uskup Merauke pada tahun 2004. Dus 32 tahun memimpin umat Katolik di sana. Sebuah rentang waktu yang lama dan pengorbanan besar.

Lelaki berhidung mancung tersebut kini hidup di penampungan para mantan pelayan Tuhan di kota Tilburg, propinsi Brabant Utara di Belanda selatan. Ia menempati sebuah bangunan nyaris kosong dan terkesan suram.

Dulu gedung merupakan asrama rohaniwan Katolik. Seiring minimnya minat warga atas agama di negeri Kincir Angin, maka makin sepi pula asrama. Wisma lalu disulap jadi tempat penampungan para “pahlawan iman”. Tujuh orang, termasuk Duivenvoorde, harus tinggal di bangunan yang punya 60an kamar.

Sepi dan hampir tak pernah ada tamu, seolah-olah tak ada yang menghargai jasanya.

Anda kalau bertemu Tuhan berharap mahkota?

“Kalau saya datang di hadapan Tuhan dan ketuk pintu, dan Dia buka pintu, Dia akan katakan: mari masuk dalam kegembiraan Tuhan. Bukan karena jasamu sendiri, sebab engkau lakukan apa yang harus engkau lakukan. Itulah tugasmu. Saya bergembira bahwa engkau setia dan masuk dalam kegembiraan Tuhan. Tanpa mahkota. Tidak usah mahkota,” ujar Jacobus Duivenvoorde.

Iklan